Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hal-Hal Menarik Perempuan Menstruasi di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan telah datang. Semua umat Islam yang sudah baligh dan tidak memiliki masalah fisik dan jiwa, wajib menjalankan ibadah puasa. Namun di sisi lain, ada saja hal-hal yang menunda terlaksanakannya ibadah puasa seperti sakit, perjalanan jauh bagi musafir, terganggunya pikiran yang waras serta kondisi khusus yang hanya dialami perempuan, yaitu menstruasi.

Nah, karena menstruasi merupakan kondisi khusus yang hanya dialami perempuan, tentu saja terdapat hal-hal menarik yang hanya dapat dirasakan oleh perempuan terkait pengalaman menstruasi di bulan Ramadhan.

Berikut hal-hal menarik perempuan menstruasi di bulan Ramadhan :

Menstruasi dan Hutang Puasa

Allah swt menciptakan makhluk perempuan dengan kondisi biologis yang special salah satunya yaitu menstruasi. Menstruasi yang dialami perempuan tentu saja berdampak pada kehidupan sehari-harinya. Dalam syariat islam, menstruasi merupakan kondisi yang memicu larangan/pantangan bagi perempuan untuk melaksanakan ibadah tertentu seperti salat, memegang mushaf al-qur’an, berdiam diri (i'tikaf) di masjid serta berpuasa. Jadi, karena saat ini adalah bulan Ramadhan, bulan dimana orang muslim berpuasa, beberapa perempuan mau tidak mau harus berpantangan melaksanakan ibadah yang sangat krusial tersebut. 

Secara umum, perempuan mengalami masa mentruasi selama 7-15 hari. Selama kurun waktu tersebut serta setelahnya, perempuan tidak dibebani dengan ritual ibadah yang disebutkan. Contohnya shalat, perempuan tidak perlu mengganti shalat yang ditinggalkan selama menstruasi. Namun berbeda dengan ibadah puasa bulan Ramadhan. Perempuan wajib mengganti ibadah puasa yang ditinggalkan. 

Maka dari itu, perempuan yang sudah baligh dan mengalami siklus menstruasi ketika bulan Ramadhan (beberapa perempuan mungkin tidak mengalami siklus menstruasi selama bulan Ramadhan), selalu mengantongi hutang puasa yang harus di bayar pada hari-hari setelahnya.

Istilah Ndas (Kepala) dan Buntut (Ekor)

Kehadiran bulan Ramadhan merupakan kabar gembira bagi kaum muslimin dan muslimat. Beberapa hari menjelang kedatangannya, umat Islam menyiapkan berbagai hal untuk menunjang kelancaran ibadah puasa. Namun di sisi lain, ada beberapa perempuan yang bersedih karena tidak bisa menyambut hari pertama puasa karena sedang menstruasi. Padahal mukena dan sajadah sudah disiapkan, sudah disetrika dengan licin untuk dipakai shalat tarawih pertama. Sanak family dan teman yang melihat mereka sedang mengeluhkan kram perut pun nyelutuk, "Wah saake, gak entuk endase. Wis moga entuk buntut e ya." Artinya "Wah kasihan, tidak dapat kepalanya. Ya sudah, semoga dapat ekornya ya." Kami para perempuan pun hanya bisa meringis sembari menahan cekat cekot di pinggang dan kaki.

Kata "ndas" dan "buntut" ini sering penulis dengar ketika bulan Ramadhan datang. Kata "ndas" mengisyaratkan hari-hari pertama puasa dan "buntut" menunjuk hari-hari terakhir berpuasa. Kesempatan mendapatkan "ndas" alias mengikuti puasa hari pertama merupakan kebahagian bagi perempuan tersendiri yang kadang harus tertunda. Tak hanya itu, kehilangan kesempatan mendapatkan "buntut" alias tidak bisa berpartisipasi mengiring kepergian bulan Ramadhan dan melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri keesokan harinya, pun kadang harus kami terima dengan lapang dada.  

Sudah seperti undian saja. Jika sedang sangat beruntung kami pun pesta besar karena mendapat kepala dan ekor. Jika cukup beruntung kami hanya mendapat salah satunya. Jika apes, ya sudah, nikmati saja jeroannya hehe. 

Mengejar Ketertinggalan Ibadah

Setelah tujuh hari mangkir dari kegiatan Ramadhan (puasa, tadarus dll) saatnya para perempuan mengejar ketertinggalan ibadah Ramadhannya. Ketertinggalan ibadah yang penulis amat rasakan adalah tadarus al-Qur'an. Selama 5-7 hari, penulis dan perempuan lainnya yang sedang menstruasi tak akan bisa menambah jumlah bacaan al-Qur'an. Sehingga setelah selesai bersuci dari menstruasi, kami harus men-double bacaan al-Qur'an dalam sehari dan mengejar beberapa juz untuk khataman yang sudah ditargetkan. 

Para perempuan akan berusaha mengejar ketertinggalan ibadah Ramadhannya diantara kaum muslimin-muslimat lainnya yang sedang berlomba-lomba memperbanyak ibadah.

Besarnya Empati dan Toleransi 

Hingga hari ini, sebagian masyarakat masih menganggap menstruasi adalah suatu hal tabu. Menurutnya, menstruasi adalah kabar buruk dan aib yang harus disembunyikan. Contoh saja ketika bulan Ramadhan tiba. Perempuan yang sedsng menstruasi akan kalang kabut mencari tempat persembunyian kala harus makan atau minum. Sebab sejak dulu, perempuan selalu diberi peringatan agar menjaga sikap di depan orang-orang yang sedang berpuasa. 

Menjaga sikap disini merujuk pada kegiatan makan di antara orang-orang yang sedang berpuasa. Hal itu, membuat perempuan sering merasa sungkan dan tidak bebas dengan hak waktu "berbuka" selama beberapa hari tersebut(waktu "berbuka" bisa diartikan tidak sedang berpuasa). Perempuan yang sedang menstruasi sudah terbiasa terlihat ikut berpuasa dan kadang hanya bisa memenuhi asupan makanan di waktu-waktu berbuka dan sahur saja. Pemandangan itu banyak terlihat pada ibu-ibu rumah tangga yang harus menyiapkan buka puasa dan sahur atau memiliki anak kecil yang sedang belajar berpuasa darinya. Padahal saat mengalami menstruasi, perempuan harus mendapat asupan gizi yang memadai. 

Begitulah, sungguh besar toleransi dan rasa empati perempuan untuk orang-orang yang berpuasa.

Mencoba Sempurna Di tengah Ketidaksempurnaan

Umat Islam menganggap bulan Ramadhan sebagai lahan menanam kebaikan dan memanen pahala. Oleh karena itu, umat Islam berbondong-bondong meningkatkan intensitas ibadahnya. Tak terkecuali perempuan yang mencoba meraih pahala dan kebaikan Ramadhan di sela-sela takdir keadaan biologis yang membuatnya mengalami menstruasi. Meski kuantitas ibadahnya di bulan Ramadhan tak sebanyak laki-laki, namun perempuan berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya salah satunya dengan mengabdikan diri kepada keluarga. 

Pengabdian perempuan terlihat saat mereka menyiapkan menu buka puasa, membangunkan keluarga kecilnya untuk sahur, mengajari anak-anak berpuasa serta shalat tarawih, yang pasti tidak semudah itu melakukannya. Tak lupa, bersamaan itu mulutnya tidak berhenti merapal dzikir dan shalawat sebagai pengganti ibadah puasa dan ibadah Ramadhan lainnya. Sebab keinginan perempuan menstruasi di bulan Ramadhan adalah menerima dan menjalani ketidaksempurnaan (takdir kondisi biologis) tersebut dihadapan Yang Maha Sempurna.

Itulah hal-hal menarik perempuan menstruasi di bulan Ramadhan. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, sepatutnya kita mengapresiasi para perempuan (khususnya keluarga kita) dan mulai belajar memahami, peduli serta meringankan beban mereka ketika sedang mengalami menstruasi di bulan Ramadhan.